Sejarah Pengumpulan Teks Al-Qur’ān Bersama Arthur Jeffery

January 17, 2017

Sejarah Pengumpulan Teks Al-Qur’ān Bersama Arthur Jeffery
Arthur Jeffery


Pendahuluan
Al-Qur’ān adalah sebuah fenomena menarik sepanjang sejarah agama. Dia bukan hanya menjadi objek perhatian manusia yang percaya padanya, tetapi juga mereka yang tertarik untuk menelitinya sebagai salah satu karya sejarah. Al-Qur’ān berperan sangat besar dalam membebaskan manusia dari sejarah yang kelabu. Al-Qur’ān mampu mengantarkan manusia kepada alam yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Al-Qur’ān sebelum dikodifikasi memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Banyak mushaf-mushaf beredar dan menjadi mushaf berpengaruh di berbagai kota.
          Arthur Jeffery seorang orientalis yang berasal dari Australia tertarik untuk meneliti al-Qur’ān dengan menggunakan metode kritik teks sejarah terhadap al-Qur’ān. Dia mengeksplor semua teks-teks yang ada. Dia menggunakan pendekatan filologis untuk melakukan penelitiannya. Impiannya adalah membuat al-Qur’ān edisi kritis.
          Mushaf-mushaf al-Qur’ān pra-‘Uthmāni dikumpulkan dan kemudian diteliti. Dia membagi mushaf-mushat pra-‘Uthmāni ke dalam dua kategori besar, yaitu mushaf primer dan mushaf sekunder. Dari banyaknya mushaf yang ada, terdapat empat mushaf yang menurutnya berpengaruh di kalangan masyarakat. Mushaf-mushaf tersebut adalah mushaf Ibn Mas‘ud, mushaf Ubay bin Ka‘b, mushaf Abu Musa al-Ash‘ari, mushaf Miqdad bin al-Aswad.

Biografi Singkat Arthur Jeffery
Arthur Jeffery (18??-1952). Dia seorang Profesor Bahasa Semitic di Universitas Colombia dan pada persatuan seminar teologi. Dia adalah salah seorang sarjana hebat dalam kajian keIslaman.
          Dia banyak menulis artikel serta jurnal-jurnal. Jeffery menulis dua karya hebat. Pertama pada tahun 1937 dengan judul Materials for the History of the Text of the Qur’ān: The Old Codices. Dan yang kedua pada tahun 1938 dengan judul The Foreign Vocabulary of the Qur’ān.
          Ada sekitar 275 kata dalam al-Qur’ān dianggap asing. Jeffery melakukan survey untuk memeriksa teks di Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Syria, Yunani, Latin, Persia tengah, dan dalam bahasa yang lain. Penelitiannya membawanya untuk mencari naskah di Timur Tengah, termasuk Kairo. Karya-karyanya yang lain termasuk The Qur’ān as Scripture (1952).

Asumsi Dasar
Al-Qur’ān adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muḥammad melalui perantara malaikat Jibrīl. Periwayatan al-Qur’ān sendiri terjadi secara mutawatir, dengan maksud banyak orang yang meriwayatkan dengan tanpa niat untuk berdusta.
          Masa kalifah Abu Bakr Ṣiddiq, ‘Umar bin Khaṭab menyarankan kepada Abu Bakr untuk mengumpulkan keseluruhan teks al-Qur’ān. Hal ini terjadi karena kekhawatiran kalifah ‘Umar bin Khaṭab akan al-Qur’ān itu sendiri. Para syuhada penghafal al-Qur’ān yang banyak wafat dijalan Allah menjadi salah satu alasan kenapa pengumpulan keseluruhan teks al-Qur’ān diperlukan.
          Pengumpulan keseluruhan teks al-Qur’ān akhirnya terlaksana pada masa kalifah ‘Uthmān bin Affān. Sebelum al-Qur’ān dikodifikasi, yaitu dengan menjadikan Mushaf ‘Uthmāni sebagai mushaf standar, banyak mushaf-mushaf yang belum resmi beredar. Mushaf-mushaf tersebut terkenal di setiap kotanya. Jeffery membedakan mushaf-mushaf yang beredar pada Mushaf Primer dan Mushaf Sekunder.
          Yang dijadikan objek kajian oleh Jeffery adalah Mushaf Primer. Yang terfokus pada tiga mushaf yang berpengaruh, yaitu Mushaf Ibn Mas‘ud, Mushaf Ubay bin Ka‘b, dan Mushaf ‘Ali.

Materials for the History of the Text of the Koran
Uraian-uraian tentang al-Qur’ān dari Zamakhshari (w. 538), Abū Hayyan (w. 745), al-Shawkanī (w. 1250) yang menggunakan beberapa sumber tua yang bagus untuk sarjana Barat. Kita temukan rekaman bagus nomor dari variasi tua yang dihadirkan berbeda dari bentuk konsonan teks dari yang kita kenal dengan ‘Uthmanic text (mushaf ‘Uthmani).
          Al-Ukbari seorang ahli bahasa dari Baghdad (w. 616), Ibn Khalawaih (w. 370), dan yang terkenal Ibn Jinni (w. 392), tidak banyak jumlah material yang seperti itu dijaga. Dalam beberapa kasus, pembuktian untuk menjadi sumber pertama dari yang datang untuk penafsir.
          Untuk menggunakan material-material sebagai kritik investigasi terhadap al-Qur’ān sepertinya tidak pernah mendapatkan perhatian dari penulis Muslim. Di dalam al-Itqan, as-Suyuti memiliki ringkasan yang bagus dari ilmuwan al-Qur’ān Muslim. Dia memiliki rekaman mengenai bahan-bahan dari Muslim Masora. Bahan-bahan yang menarik untuk sejarah dari penjelasan al-Qur’ān, tapi sangat sedikit untuk menunjang investigasi teks tersebut.
          Hal ini banyak menarik perhatian sarjana Barat. Diawali oleh Nöldeke pada tahun 1860 dengan edisi pertama dari Geshichte des Qorans miliknya dan tungen.[1] Kemudian dilanjutkan oleh Bergsträsser dan Flugel.
          Ketika Rasūllāh saw wafat, teks al-Qur’ān telah diperbaiki. Semua materi yang diperoleh disimpul (dijilid) sebelum ditulis kembali. Terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur’ān. Sampai-sampai menimbulkan perselisihan. Yang dibaca oleh penduduk Hom dan Damaskus adalah kode dari Miqdad bin al-Aswad. Orang-orang Kufah membaca kode dari Ibn Mas‘ud. Orang-orang Bashrah membaca kode Abu Musa al-Ash‘ari. Dan orang-orang Syria umumnya membaca kode dari Ubai’ bin Ka‘b.
          Terjadi banyak perbedaan antara kode dari kota-besar seperti Mekah, Madina, Basrah, Kufah, dan Damaskus. Maka untuk itu dibutuhkanlah kode standar yang dapat diterima oleh semua kota. Solusi dari kalifah Uthmān adalah menjadikan kode Madina sebagai kode standar dan kode-kode yang lain dihancurkan.
          Di bawah kalifah Uthmān, ditemukan semua jenis sifat dialek dan pembacaan. Kemudian kalifah Uthmān membentuk suatu komite dan meminjam mushaf yang ada pada Hafsa. Mushaf yang dikumpulkan oleh kalifah Abū Bakr. Mushaf itu dijadikan basis standar untuk penyeragaman teks al-Qur’ān dan ditulis dengan dialek qurais. Al-Qur’ān yang telah diseragamkan dikirim ke negara-negara Islam dan menjadi sebagai kode metropolitan. Sedangkan kode-kode yang lain dibakar. Uthmān berkata kepada ketiga orang qurais yang ditugasi menulis al-Qur’ān: jika kalian dan Zaid bin Thabit berselisih dalam suatu ayat dari al-Qur’ān, maka tulislah dengan lisan orang-orang qurais, karena al-Qur’ān diturunkan atas lisan mereka.[2]
Ada sedikit keraguan bahwa teks resmi oleh Uthmān hanya salah satu di antara beberapa jenis teks yang ada pada saat itu. Teks Madinah tidak ada keraguan lagi kealamiannya. Kemudian Kufa datang untuk memiliki reputasi dalam pusat kajian al-Qur’ān. Kota Nabi sendiri pada saat itu telah sangat besar dan tradisi yang berkembang di sana sangat berlimpah. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa teks Madinah memiliki semua peluang untuk menjadi teks terbaik. Namun pertanyaan yang penting di sini untuk studi tentang sejarah teks al-Qur’ān, apakah kita dapat mengumpulkan informasi penting apapun mengenai jenis saingan teks yang ditekan untuk kepentingan edisi standar ‘Uthmān.
Dalam karya-karya mufasir dan para ahli bahasa, tidak jarang kita menemukan varian bacaan yang diawetkan dari naskah-naskah kuno. Kadang referensinya dari naskah para sahabat atau naskah tua. Ada naskah kuno dari Basra, kode Homs, dan naskah kuno dari Ahl al-Aliya. Jumlah varian yang diawetkan ini relatif kecil.

Kitab-Kitab Masaḥif
Dalam studi al-Qur’ān seorang murid dari Abu Khallad Sulaiman bin Khallad dan merupakan salah satu guru dari Ibn Mujahid dan al-Naqqash. Dia menulis sejumlah karya pada mata bidang al-Qur’ān. Dalam Fihrist, kita temukan:
Pada abad ke-4 beberapa sarjana Muslim melakukan kajian khusus terhadap fenomena Maṣāḥif ini. Salah seorang yang menyusun karya dalam bidang ini adalah Abi Dawūd (w. 316), Kitāb al-Maṣāḥif. Arthur Jeffery adalah penyunting kitab itu. Kemudian Arthur Jeffery membagi mushaf-mushaf lama itu ke dalam dua kategori utama, yaitu: mushaf primer dan mushaf sekunder.[3]
          Yang dimaksudkan dengan mushaf primer adalah mushaf dari koleksi-koleksi pribadi sahabat nabi – 15 kodeks. Sedangkan mushaf sekunder – 13 kodeks - adalah mushaf generasi selanjutnya yang bergantung pada mushaf primer. Mushaf sekunder juga mencerminkan bacaan kota-kota besar Islam. Skema antara mushaf primer dan mushaf sekunder adalah sebagai berikut:[4]


a)             Mushaf (kode) primer (Primary Codices)
Salim (w. 12)                                             ‘A’isha (w. 58)
‘Umar (w. 23)                                            Umm Salama (w. 59)
Uba‘i bin Ka‘b (w. 29)                              ‘Abdullah bin ‘Amr (w. 65)
Ibn Mas’ud (w. 33)                                   Ibn ‘Abbas (w. 68)
‘Ali (w. 40)                                                Ibn Az-Zubair (w. 73)
Abu Musa al-Ash‘ari (w. 44)                    Ubaid bin ‘Umair (w. 74)
Hafsa (w. 45)                                            Anas bin Malik (w. 91)
Zaid bin Thabit (w. 48)

b)             Mushaf (kode) sekunder (Secondary Codices)

'Alqama bin Qais (w.62)
Ar-Rabi‘ bin Khuthaim (w. 64)
Al-Harith
Al-Aswad (w. 74)                               Semua kode ini didasarkan atas kode Ibn Mas’ud
Hiṭan (w. 73)
alha
Al-A‘mash (w. 148)
Sa‘id bin Jubair (w. 94)
Mujahid (w. 101)
‘Ikrima (w. 105)
‘Ata’ bin Abi Rabah (w. 115)
Salih bin Kaisan (w. 144)
Ja’far as-Sadiq (w. 148)

          Mushaf-mushaf yang relevan untuk dibahas adalah mushaf-mushaf dalam kategori primer. Mushaf-mushaf primer ini menunjukkan upaya yang sadar dari kalangan sahabat Rasulūllāh saw untuk mengumpulkan al-Qur’ān, baik pada masa Rasūlullāh saw masih hidup dan sepeninggalnya.
          Semua informasi yang dikumpulkan mengenai naskah awal adalah yang paling penting untuk dikritik dari al-Qur’ān. Hal ini disebabkan karena tidak adanya bukti langsung dari naskah yang memberikan kita kesaksian langsung untuk jenis teks standar ‘Uthmān. Sepeti yang telah kita lihat, bahwa dalam memilih teks Madinah untuk menjadi teks resmi ‘Uthmān, memilih teks-teks terbaik yang ada.
Muncul pertanyaan, apa untuk keaslian bacaan ini dianggap berasal dari naskah kuno. Dalam beberapa kasus harus diakui jika terdapat kecurigaan dari bacaan, yang kemudian ditemukan oleh ahli bahasa. Kecurigaan ini terdapat dalam kasus pembacaan Syi’ah yang dikaitkan dengan mushaf Ibn Mas‘ud dan dalam pembacaan yang dikaitkan dengan istri-istri nabi.
          Tidak semua mushaf-mushaf primer yang telah disebutkan memiliki pengaruh terhadap masyarakat saat itu. Di antara sekian banyak mushaf primer (15 kode), hanya terdapat empat mushaf yang memiliki pengaruh penting terhadap masyarakat. Di antara mushaf tersebut adalah: 1) Ibn Mas‘ud, yang mushafnya terkenal pada masyarakat Kufah, 2) Ubay bin Ka‘b, berpengaruh pada masyarakat Syria, 3) Abu Musa al-Ash‘ari, berpengaruh besar bagi masyarakat Basrah, 4) Miqdad bin al-Aswad, yang berpengaruh pada masayarakat Hom (Hims). Yang akan dibahas di sini adalah mushaf yang dikumpulkan oleh Ibn Mas‘ud.

Mushaf Ibn Mas‘ud menurut Arthur Jeffery dan al-Suyūṭī
‘Abdullāh bin Mas‘ud adalah seorang sahabat Nabi Muḥammad saw yang mula-mula masuk Islam. Dia berasal dari kalangan strata bawah masyarakat Mekah. Ketika nabi memerintahkan pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia, dia pergi bersama pengikut awal Islam lainnya. Dia banyak berpartisipasi dalam peperangan, seperti dalam perang Badr, perang Uhud, perang Yarmuk. IbnMas‘ud merupakan otoritas terbesar dalam al-Qur’ān.
          Ketika Ibn Mas‘ud menjadi seorang muslim, dia sepenuhnya patuh kepada Nabi Muḥammad saw. Dia ajarkan langsung oleh Nabi Muḥammad saw sekitar tujuh puluh surah dari al-Qur’ān. Sejarah menceritakan bahwa Ibn Mas‘ud merupakan salah satu dari empat orang yang Rasūllāh saw rekomendasikan kepada umatnya untuk bertanya mengenai al-Qur’ān.
          Informasi mengenai kapan Ibn Mas‘ud menyusun kodenya (mushaf) tidak didapati. Ternyata dia mulai mengumpulkan materi-materi pada masa Nabi dan sepeninggal Nabi. Setelah di tempatkan di Kufah, dia berhasil memapankan pengaruh mushafnya di kalangan masyarakat Kufah.
          Ketika ‘Uthmān mengirim mushaf resmi ke Kufah sebagai mushaf standar dan memerintahkan untuk membakar semua mushaf selain mushaf ‘Uthmāni, Ibn Mas‘ud ragu untuk memberikan mushafnya. Dia menjadi kesal atas mushaf yang dibuat oleh Zaid bin Thabit. Ketika Ibn Mas‘ud telah memeluk agama Islam, Zaid bin Thabit masih menjadi orang yang tidak percaya kepada Islam.
          Terdapat perbedaan antara mushaf ‘Uthmāni dan mushaf Ibn Mas‘ud di kalangan masyarakat Kufah. Sebagian masyarakat Kufah menerima mushaf resmi (‘Uthmāni) dan sebagian yang lain masih teguh memegang mushaf Ibn Mas‘ud yang pada waktu itu menjadi mushaf yang dihormati di Kufah. Mushaf Ibn Mas‘ud difavoritkan di kalangan Syiah, meskipun tidak semua kalangan Syiah menerimanya. Hal ini memang ditemukan di sumber Sunni dan Ahl al-Bait.
          Terdapat keganjilan pada mushaf Ibn Mas‘ud, yaitu ketiadaan surah I, CXIII dan CXIV. Surah al-Fatiḥa yang merupakan surah pembuka tidak tercantum dalam mushaf Ibn Mas‘ud. Surah al-Falaq dan al-Nas pun tidak tercantum.
          Karakteristik lain dari mushaf Ibn Mas‘ud terletak pada sususan surat yang berbeda dengan mushaf ‘Uthmāni. Urutan surahnya adalah: 1) Sab‘un Ṭiwal, 2) Main, 3) Mathani, 4) Hawamim 5) Mumtahanat, 6) Mufaṣṣalat. Mushaf tersebut memuat 111 surah.[5]
          Ada dua riwayat tentang susunan surat dalam dalam mushaf Ibn Mas‘ud. Riwayat pertama dikemukakan Ibn al-Nadim berdasarkan otoritas Ibn Shadhan, dan riwayat kedua dikemukakan oleh al-Suyuṭi mengutip pernyataan Ibn Ashtah yang kembali kepada Jarir ibn Abd al-Ḥamid.[6] Kedua riwayat tersebut bisa disajikan sebagai berikut:[7]
Fihrist
2, 4, 7, 6, 10, 9, 16, 11, 12, 17, 21, 23, 26, 37, 33, 28, 24, 8, 19, 29, 30, 36, 25, 22, 13, 34, 35, 14, 47, 31, 39, (40 bis 46), 40, 43, 41, 46, 45, 44, 48, 57, 59, 32, 50, 65, 49, 67, 64, 63, 62, 61, 72, 71, 58, 60, 66, 65, 53, 51, 52, 54, 69, 56, 68, 79, 70, 74, 73, 83, 80, 76, 75, 77, 78, 81, 82,88, 87, 92, 89, 85, 84, 96, 90, 93, 94, 86, 100, 107, 101, 98, 91, 95, 104, 105, 106, 102, 97, 103, 110, 108, 109, 111, 112.

Surah yang hilang di sini adalah surah 15, 18, 20, 27, 42, 99, selain surah yang telah dihilangkan sebelumnya (1, 113, 114). Surah-surah yang hilang di dalam Fihrist ditemukan dalam daftar al-Itqan. Di dalam Fihrist disebutkan bahwa jumlah surah dalam Mushaf Ibn Mas‘ud adalah 110, tetapi apabila dihitung hanya terdapat 105 surah.
Dalam daftar kedua di dalam al-Itqan yang ditulis al-Suyuti yang dia kutip dari Ibn Ashta kembali kepada pendapat Jarir bin ‘Abd al-Hamid (w. 188), dapat disajikan data sebagai berikut:
al-Itqan
2, 4, 3, 7, 6, 5, 10, 9, 16, 11, 12, 18, 17, 21, 20, 23, 26, 37, 33, 22, 28, 27, 24, 8, 19, 29, 30, 36, 25, 15, 13, 34, 35, 14, 38, 47, 31, 39, 40, 43, 41, 42, 46, 45, 44, 48, 59, 32, 65, 68, 49, 67, 64, 49, 67, 64, 63, 62, 61, 72, 71, 58, 60, 66, 55, 53, 52, 51, 54, 56, 79, 70, 74, 73, 83, 80, 76, 77, 75, 78, 81, 82, 88, 87, 92, 89, 85, 84, 96, 90, 93 86, 100, 107, 101, 98, 91, 95, 104, 105, 106, 102, 97, 99, 103, 110, 108, 109, 111, 112, 94.
Dalam daftar yang disajikan al-Itqan pun tidak ditemukan surah 1, 113, 114. Dalam al-Itqan hanya memuat 108 surah. Surah yang hilang daftar al-Itqan sebanyak 3 surah, yaitu 50, 57, dan 69. Namun ketiga surah yang tidak ada dalam daftar al-Itqan ditemukan dalam daftar Fihrist. Jadi kedua daftar ini berhubungan cukup dekat antara satu dengan yang lainnya.
Untuk kepentingan resensi resmi, kita temukan potongan-potongan bahan dan mengingat tempat yang paling tepat untuk menempatkan potongan tersebut. Potongan-potongan dari surah tersebut terdiri potongan Mekah dan Madinah, yang berbeda tanggal dan asalnya. Kemungkinan besar, para pengumpul surah-surah al-Qur’ān akan memberikan nama yang sama pada surah. Untuk mengungkap urutan-urutan surah yang berbeda dalam berbagai naskah, maka dibuatlah daftar surah untuk mengungkap perbedaan.
Pembacaan varian yang selau mengikuti urutan teks resmi hadir. Sumber-sumber varian secara tegas dikatakan berasal dari naskah kuno Ibn Mas‘ud. Namun terkadang juga disebutkan berasal dari para sahabat Ibn Mas‘ud. Mengingat pentingnya pembacaan dari Ibn Mas‘ud dan Ubai bin Ka‘b, semua bacaan mereka masih bertahan dan masuk dalam daftar bahwa mushaf mereka tidak bergantung pada teks konsonan berbeda dengan ‘Uthmān.

Apresiasi Terhadap Arthur Jeffery
Dalam mempelajari sejarah pengumpulan teks-teks al-Qur’ān sebelum teks ‘Uthmāni menjadi teks resmi umat Islam secara keseluruhan, Jeffery memberikan kemudahan untuk melakukan penelitian terhadap keseluruhan jenis teks dan dialek terhadap al-Qur’ān. Dia membagi mushaf-mushaf pra-‘Uthmāni kepada dua kategori besar, yaitu Mushaf Primer (Primary Codices) dan Mushaf Sekunder (Secondary Codices).
          Setelah dia membagi, dia juga menyebutkan mushaf-mushaf yang termasuk ke dalam kategori primer, begitupun mushaf-mushaf yang masuk ke dalam kategori sekunder. Namun yang menjadi perhatiannya hanya kepada mushaf primer saja. Dia tidak memberi penjelasan dan perhatian pada mushaf sekunder.
          Mushaf primer yang menjadi perhatiannya adalah Mushaf Ibn Mas‘ud, Mushaf Ubay bin Ka‘b, dan Mushaf ‘Ali. Dalam tulisannya Materials for the History or the Text of the Koran hanya tiga mushaf tersebut yang mendapatkan penjelasan.

Penutup
Al-Qur’ān adalah kitab yang di dalamnya terdapat berbagai macam pengetahuan. Dari segala sisinya dapat menjadi kajian. Fokus Jeffery dalam hal ini adalah semua materi-materi sejarah dari teks-teks al-Qur’ān.
          Banyak materi-materi di sekililing al-Qur’ān. Terdapat setidaknya 28 kode yang terbagi kepada kode primer – 15 kodeks dan kode sekunder – 13 kodeks. Kode primer adalah segala kode yang bersumber dari para sahabat Rasūlullāh saw, atau bisa disebut sebagai koleksi pribadi para sahabat. Sedangkan apa yang disebut dengan kode sekunder adalah kode dari generasi selanjutnya yang bergantung pada mushaf primer. Mushaf sekunder juga mencerminkan bacaan kota-kota besar Islam.
          Kode-kode primer yang menjadi fokus Jeffery adalah Kode Ibn Mas‘ud, Kode Ubai bin Ka‘b, dan Kode ‘Alī bin Abi Ṭalib. Dan yang menjadi fokus tulisan ini adalah kode dari Ibn Mas‘ud.
          Terdapat dua riwayat dalam menjabarkan kode Ibn Mas‘ud, yaitu riwayat yang dikeluarkan oleh al-Nadim dalam Fihrist, dan riwayat yang dikeluarkan as-Suyuṭi dalam al-Itqan.
          Terdapat perbedaan dari kedua riwayat tersebut. Perbedaan terletak pada urutan surah serta jumlah surah. Dalam Fihrist disebutkan bahwa jumlah surah dalam kode Ibn Mas‘ud sebanyak 110 surah, tetapi kenyataannya hanya memuat 105 surah.       Sedangkan dalam al-Itqan disebutkan jumlah surah dari kode Ibn Mas‘ud sebanyak 108 surah.
          Surah-surah yang hilang atau tidak ditemukan dalam Fihrist, ditemukan dalam al-Itqan dan begitu sebaliknya. Jadi kedua riwayat tersebut jelas saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Referensi
Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005
Jeffery, Arthur, Materials for the History of the Text of the Koran. Edited by Ibn Warraq, The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book. New York: Prometheus Books, 1998.
Ma‘rifat, Muḥammad Hadi, Sejarah Al-Qur’ān, penerjemah: Ṭoha Musawa. Jakarta: al-Huda, 2007.
As-Suyuṭi, Imam Jalaluddin, Samudra Ulumul Qur’ān, penerjemah: Farikh Marzuki, dkk. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006.





[1] Lihat tulisan Arthur Jeffery, Materials for the History of the Text of the Koran. Edited by Ibn Warraq, The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book. (New York: Prometheus Books, 1998), h. 115.
[2] Imam Jalaluddin As-Suyuṭi, Samudra Ulumul Qur’ān, penerjemah: Farikh Marzuki, dkk (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006), h. 306.
[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), h. 183.
[4] Arthur, Materials, h. 123.
[5] Muḥammad Hadi Ma‘rifat, Sejarah Al-Qur’ān, penerjemah: Ṭoha Musawa (Jakarta: al-Huda, 2007), h. 138.
[6] Taufik, Rekonstruksi, h. 198.
[7] Arthur, Materials, h. 128-129.

You Might Also Like

0 comments