Metodologi Penulisan Tafsir As-Sa'di

December 14, 2016

Metodologi Penulisan Tafsir As-Sa'di


Pendahuluan
Zaman yang semakin mengalami perubahan, jarak antara islam dan masyarakat semakin merenggang tuntutan bagi setiap jaman adalah penafsiran dan penggambaran tentang kitab suci yang di jadikan rujuakan. Al-Quran adalah kitab yang diturunkan sebagai rahmat bagi yang beriman dan yang tidak beriman. Oleh sebab itu, ia berlaku di setiap jaman baik awal ia diturunkan maupun sampai bumi diguncangkan oleh guncangan yang telah Allah SWT. gambarkan dalam surah al-Qiyamah-Nya. Penafsiran adalah sebagai solusi paling tepat dalam menjelaskan kitab suci yang dijadikan rahmat oleh sebab itu setiap waktu dibutuhkan seorang mufasir yang telah benar-benar memenuhi persyaratan dan kredebilitas sebagai mufasir. Maka akan kami sajikan sebuah kitab tafsir yang muncul di zaman abad ke- 19 . yang mencoba menjawab tentang apa yang baru datang tanpa melupakan yang telah ditorehkan oleh orangorang yang terdahulu.

Biografi
Nasab Keturunan
Nama asli beliau adalah Abdurahman bin Nasir bin Abdullah as-Sadi. Beliau dilahirkan pada tahun 1307 H di daerah Unaizah yang merupakan salah satu daerah kekuasaan al-Qashim, dari garis keturunan Bani Amr salah satu suku terkemuka dari suku Bani Tamim. Sejak kecil ia sudah di tinggal oleh orang tuanya ibundanya meninggal di waktu ia berusia empat tahun, dan ayahnya setelah tiga tahun kemudian mengikuti ibundanya menghadap ilahi di waktu beliau berusia tujuh tahun.

Perjalanan Hidup Dan Rihlah Ilmiyah
Sejak kecil beliau sudah berkembang dengan ahlak yang mulia tidak ada kegiatan beliau kecuali sesuatu yang berguna, sampai sampai beliau selesai menghatamkan al-Quran di usia 12 tahun. Banyak para ulama yang beliau datangi beliau belajar Ilmu hadis Ibrahim bin Hamd bin Jasir, ilmu fiqih dan nahwu Muhammad bin Abdul Karim asy-Syibl.
Dari gurunya di atas guru beliau yang paling lama adalah Syaikh salih usman bin qadhi beliau belajar kepadanya ilmu hadis, fiqih, tafsir dan ushul fiqih, nahu syaikh Salih ini adalah guru beliau di saat beliau masih di Unaizah neliau belajar kepadanya sampai guru beliau ini meninggal. As-Sadi juga belajar kepada Muhammad as-Sanqithi ketika beliau tinggal di Hijaz, kemudian beliau berpindah ke kota az-Zubair . Banyak para ulama yang belajar kepadanya: Syekh Sulaiman bin Ibrahim Al Bassam, Syekh Muhammad bin abdul Aziz al Muthowi, Syekh Muhammad bin Mushollih al Usaimin seorang imam masjid Agund di Unaizah dan anggota dewan ulama besar, Syekh Ali bin Muhammad bin Jamil Alusalim bin Nahwi, Syekh Abdullah bin Abdul Aziz al Aqil, dll.

Karya-karya
1    .      Taisīr al-Karīm al-Raman fī Tafsīr al-Kalām al-Manān (8 juz).
2    .      Taisirul Lathifil Mannan fi Khulasati Tafsiril Quran.
3    .      Al Qawaidul Hisan li Tafsirl Quran
4    .      Al Irsyad ila Marifatil Ahkam.
5    .      Ar Riyadh An Nadhirah.
6    .      Bahjatu Qulubil Abrar.
7    .      Manhajus Salikin wa Tawdhihil Fiqh fiddin.
8    .      Hukmu Syurbid Dukhan wa Baiihi wa Syiraihi.
9    .      Al Fatawa As Sadiyah
      .  3 Kumpulan Khutbah.
1    .  Al Haqqul Wadhihul Mubin bi Syarhi Tauhidil Anbiya wal Mursalin
1    .  Tawdhihul Kafiyati Syafiyah Syarh Nunniyati Ibnul Qayyim

Motivasi Penafsiran
Motifasi penulis di ungkapkan dalam moqadimahnya yaitu: “Sesungguhnya telah banyak sekali tafsir tafsir para ulama terhadap al-quran, ada mufasir yang panjang lebar hingga keluar pada sebagian besar pembahasannya dari yang di maksudkan, ada juga yang sangat sederhana sekali yang hanya mencukupkan dengan menyelesaikan makna bahasanya saja terlepas dari makna yang dikehendaki. Akan tetapi saya tidak berfokus pada permasalahan lafadz dan tata bahasa, saya menafsirkannya hanya mengunakan makna yang ada hubungannya dengan ayat. Karena para penafsir al-Quran telah cukup, untuk orang orang setelahnya. dalam hal, tarfir ini sebagai kenang-kenangan bagi orang orang berusaha, alat bantu bagi para cendikiaawan, penolong bagi para penjelajah, dan saya akan menulisnya karena takut akan hilang.”

Metode Penafsiran
Ada beberapa metode penulisan tafsir yang selama ini digunakan yaitu: metode analisis
(tahlili), global (ijmali), komparatif (muqaran), dan tematik (maudu
i). meneliti tafsir as-Sadi yang menafsirkan al-Quran dari al-Fatihah sampai an-Nas maka tafsir inidikategorikan sebagai tafsir tahlili. 21 Tafsir Tahlili yaitu mengkaji ayat-ayat al-Quran dari segala segi dan maknanya.
Seorang pengkaji dengan metode ini menafsirkan ayat al Qur
an, ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutan dalam mushaf Utsmany. Dan untuk menjelasaknnya tafsir ini merujuk kepada sebab sebab turunya ayat hadis hadis Rasulallah SAW dan dari riwayat riwayat
sahabat dan tabi
in.

Sumber Penafsiran
Sumber penafsiran yang digunakan oleh as-Sadi adalah perpaduan dari sumber matsur (riwayah) dan al-rayi (ijtihad). Dalam penjelasan-penjelasannya, ayat al-Quran menjadi sumber utama dalam penafsirannya. Dan hadis-hadis nabi menjadi sumber berikutnya. Tidak tupa sebagaimana yang dijelasakan oleh muridnya yaitu syaikh muhamad bin salih al-ustaimin keistimewan yang terdapat di dalam “Tafsir ini dalah ia tetap berjalan di jalan yang benar yaitu berjalan di atas manhaj salaf pada ayat ayat sifat yang tidak ada peyimpangan dan tidak ada takwil yang bertentangan
dengan maksud allah dalam firmannya, dan itulah patokan dalam pengukuhan aqidah.” Sebagai bukti bahwa ia menggunakan sumber-sumber di atas adalah :

·         Al-Qur’an Dengan Al-Qur’an
Dalam menafsirkan ayat ke 7 dari surah al-Baqarah:
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang Amat berat.”

Dalam menafsirkan ayat ini ia menafsikannya dengan ayat yang lain yaitu:
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”

·         Al-Quran Dengaan Hadis :
Beliau menafsirkan doa dari nabi Ibrahim dan nabi Ismail yang Allah SWT. abadikan di dalam surat al-Baqarah ayat: 129
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Menurut beliau ini adalah sebuah doa dari Ibrahim dan ismail agar Allah mengutus seorang rasul dari keturunannya, yang membacakan ayat dan mensucikannya dan doa ini sesuai dengan sabda Rasulallah SAW bahwa
"saya adalah doa dari bapak saya Ibrahim”.

·         Al-quran Dengan Pendapat Para Ulama:
Beliau dalam menafsirkan menggunakan pendapat ulama, sebagaimana dapat kita temukan dalam penafsirannya al-Baqarah ayat: 79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Dalam menafsirkan ayat ini beliau menggunakan pendapatnnya Ibn Taimiyah. Beliau berkata:
Syaikh islam berkata ketika ayat ayat ini di sebutkan dari firmannya: “Apakah kamu masih mengharapkan mereka percaya kepadamu, padahal segolongan mereka mendengar firman allah lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? dan apabila mereka berjumpa dengan orangorang yang beriman mereka berkata: “kamipun telah beriman”, tetapi mereka berada
sesama mereka berkata: “apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah di terangkan allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan rabb-mu; tidakkah kamu mengerti? “tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka yatakan. Dan di antara mereka ada yang buta huruf tidak mengetahui al-Kitab( Taurat) kecuali dongengan
bohong belaka dan mereka hanya menduga duga”. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Karakteristik
Tafsir as-Sadi berbeda dari tafsir-tafsir yang telah ada. kareana salah satu motivasi ia dalam menulis tafsirnya yaitu ingin membantu masyarakat karena menurutnya pada zaman sekarang masyarakat sangat minim terhadap tulisan-tulisan yang panjang lebar, dengan demikian bahwa ia sangat senang menulis tafsir yang sangat sederhana dan tidak panjang lebar. Dalam tafsirnya ia sertakan ushul-ushul dan hal-hal umum tafsir agar mengusulkan sesuatu yang mungkin saja tertinggal pada pembaca yang budiman pada jilid-jilid selain ini. Karena sesungguhnya ushul ushul dan hal hal umum tersebut dapat dibangun di atas segala hal-hal yang bersangkutan dengan Furu dan bagian-bagian dan semoga diperoleh dengannya faedah dan guna walaupun dengan penjelasan yang singkat.

Corak Penafsiran
Dalam menafsirkan ia berpendapat bahwa al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk yang allah turunkan sebagai pemberi keterangan dan sebagai perinci dari semua masalah. Keistimewaan la-quran adalah apabila memahami sebagiannya atau sekumpulan darinya akan membentu dalam memahaminya. Dari alsan alasan itu ia ingin mnjadikan bahwa al-quran adalah sebuah kitab yang menjadi bahan rujukan dalam semua masalah, yaitu corak yang ia ambil adalah Hidai. yaitu tafsir yang di latar belakangi oleh pemikiran untuk mnjadikan hidayah atau akhlak al-Quran menjadi proses atau sentral dari usaha penafsiran terhadap kitab suci al-Quran.

Sistematika Penulisan
a.       Menafsirkan dengan memulai pada penamaan surat. Beliau hanya menyebutkan nama surat dan menyebutkan apakah ia ayat-ayat makkiyah atau ayat madaniyah

b.      Mencantumkan Asbab an- Nuzul
Surat ali imran ayat 128:
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang
zalim”.
As Sadi dalam menafsirkan ayat ini ia menggunakan sebuah riwayat yaitu ketika Nabi tertimpa musibah pada perang Uhud hingga gigi beliau patah, kepala beliau terluka, beliau bersabda:
“bagaimana (mungkin) akan beruntung suatu kaum yang telah melukai wajah Nabi dan memecahkan giginya.”
Maka Allah menurunkan ayat diatas, dan menjelaskan bahwa segala urusan ada ditangan Allah dan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki wewenang sedikitpun, karena beliau adalah seorang hamba diantara hamba-hamba Allah, sedangkan mereka semua ada dibawah penghambaan kepada Rabb mereka yaitu yang diatur dan bukan yang mengatur. Dan mereka adalah orang-orang yang telah engkau doakan wahai Rasul, atau yang telah engkau mustahilkan mendapatkan petunjuk dan keberuntungan, bila Allah menghendaki niscaya dia mengampuni mereka dan dibimbing masuk ke dalam Islam, dan itu telah dilakukan olehNya, karena telah banyak diantara orang-orang tersebut yang telah masuk Islam dan diberikan hidayah oleh Allah. Dan bila Allah kehendaki, dia pun akan menyiksa mereka karena mereka adalah orang-orang yang zhalim yang berhak mendapatkan hukuman dan siksa dari Allah.

c.       Menjelaskan Nasikh Mansuh dan Mentarjih pendapat. Nasikh secara bahasa adalah menghilangkan, mengganti. Sedangkan menurut istilah yaitu mengangkat atau mengganti sebuah hokum syarI dengan hokum syari. 30 as-sadi juga tidak lepas untuk mejelaskan hal tersebut sebagaimana ia menjelaskan dalam tafsirnya surat alBaqarah ayat : 234
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Telah terkenal di kalangan para ahli tafsir bahwa ayat yang mulia ini telah dinasakh oleh ayat yang sebelumnya yaitu firman Allah:

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Dan bahwasannya perintah itu adalah untuk para istri agar menunggu selama satu tahun penuh kemudian diganti (dinasakh) dengan empat bulan sepuluh hari. Mereka menjawab tentang mengapa ayat yang menasakh ini lebih dahulu; bahwa itu hanya dalam penempatan saja dan bukan lebih dulu diturunkan, karena syarat dari ayat yang dihapus adalah harus turun lebih akhir dari ayat yang dihapus. Pendapat ini tidaklah ada dalilnya, karena barang siapa yang mencermati kedua ayat itu, maka akan jelas baginya bahwa ayat pertama itu selain tentang ayat ini adalah yang paling benar dan bahwa ayat yang paling pertama itu adalah wajibnya menunggu selama empat bulan sepuluh hari dalam bentuk pengharusan atas wanita, adapun dalam ayat ini adalah sebuah wasiat kepada keluarga mayit agar membiarkan istri si mayit itu tinggal bersama mereka selama satu tahun penuh dengan paksaan demi kepentingannya dan sebagai kebajikan kepada mayit mereka.

d.      Menjelaskan persamaan kata. Dalam menafsirkan beliau memadukan arti dengan ayat ayat yang lain seperti dalam menafsirkan ayat:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”

Kata
استوى terkadang ,arti tiga dengan hadir anQur al dalam disebutkan yang
tidak dijadikan kata karena muta
addi (yang membutuhkan obyek) dengan huruf yang berarti kesempurnaan dan kepurnaan, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Qashash ayat : 14 tentang Musa as:

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

kerja kata bila ini hal ,(diatas jauh dan tinggi) “
و ارت ” bermakna juga Terkadang
dijadikan kata kerja muta
addi dengan “ ” seperti firman Allah surat thaha ayat : 5

“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy”.

Dan juga terkadang berarti bermaksud sebagaimana bila dijadikan kata kerja muta
addi
(transitif) dengan “
اا” yaitu kepada, sebagaimana yang ada pada ayat ini, yaitu ketika Allah telah menciptakan bumi, ia bermaksud menciptakan langit dan dijadikannya tujuh langit, maka dia menciptakannya, menyeimbangkannya dan mengukuhkannya, dan Allah maha tau akan segala sesuatu, Dia mengetahui apa yang masuk dalam bumi dan apa yang keluar darinya, mengetahui apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya, dan Dia mengetahui juga apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian perhatikan, dan dia mengetahui yang rahasia dan yang tersembunyi.

Madhab Fiqih dan Aliran Kalam
Madhab fiqih yang terlihat dalam tafsir as-sadi ini adalah ketika ia menjelaskan masalah tayamum. Penjelasannya sebagai berikut:

Menurutnya bahwa ketika orang membasuh kedua tangannya ketika bertayamum adalah yang diwajibkan hanya sampai dengan dua pergelangan saja. Pendapat yang dedmikian adalah pendapat yang di anut oleh madhab zhahiri dan para ahli sunah.

Madhab kalam yang beliau anut adalah sesuai dengan apa yang di katakan oleh para muridnya:

“Keistimewaan dari tafsir ini adalah berjalan di atas manhaj salaf pada ayat ayat sifat yang tidak ada penyimpangan dan tidak ada takwil yang bertentangan dengan maksud Allah SWT. dalam firmannya, dan itulah patokan dalam pengukuhan aqidah.”

Dalam penjelasan ahlusunah bisa merujuk terhadap pendapatnya al-hafizh murtadla azzabidi ( W. 1205 H) dalam ithaf juz 11 hlm. 6, mengatakan pasal ke dua jika di katakan ahlu sunah wal jamaah maka yang di maksud adalah asyariyah dan al-maturidiyyah.” Mereka adalah ratusan juta umat islam. Mereka adalah para pengikut madhab Hanafi, Maliki, Safii, dan Hambali.

Metodologi Penulisan Tafsir As-Sa'di
Tafsir As-Sa'di


DAFTAR PUSTAKA
Jamaah, Syabab Ahlusunah Wal..Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah . Jakarta : Syahamah Pres. 2012
as-Sadi, Abdurahman bin Nasyir .Ushulul Aqidah ad-Diniyah . Bairut: Dar ibn al-Juzi. 2010
Rusyd , Abul Walid Muhamad bin Ahmad bin Muhammad ibn . Bidayah AlMujtahid Wa Nihayah Al-Maksud Bairut: dar al-Jiil. 1989 Suyuthi, Jalaludin as- Lubab an-Nuqul fi Asbab An-Nuzul. Mesir: ar-Risalah. 2002
Iqbal , Muhammad dkk .Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al- Manan ; Tafsir as-Sadi. Jakarta: Pustaka Sahifa. 2006

Qathan, Mana al-. Mabahis fi „Ulum al-Quran. Mesir: Dar ar-Rasyid 2009

You Might Also Like

0 comments