MAKKI DAN MADANI

April 07, 2015

“Makki dan Madani
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dibuat untuk memenuhi tugas akhir
mata kuliah : Dasar – Dasar Ilmu Al- Qur’an
Nani, Muhammad Sholeh, Rizwan Januar
Pendahuluan
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, sebagian besar waktu Rasulullah dihabiskan di Makkah dan sebagian di Madinah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 n?tã Ĩ$¨Z9$# 4n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨tRur WxƒÍ\s? ÇÊÉÏÈ 

“Artinya : Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”[1]

Diantara surat–surat yang ada dalam Al – qur’an tersebut sebagian disebut Makkiyah dan sebagian yang lain disebut Madaniyyah. Pembagian tersebut dibagi berdasarkan ciri-ciri, tempat diturunkan, tema dan gaya bahasa yang digunakan serta asbabun nuzul dari ayat ataupun surat yang ada di dalam al-qur’an.

Oleh karena itu, maka dalam makalah ini kita akan membahas tentang pengertian, ciri-ciri, serta kegunaan/faedah di dalam mengetahui Makki dan Madani.

Pembahasan

  1. Pengertian Makki dan Madani

 Ulama’ masih ikhtilaf/berbeda pendapat di dalam mendefinisikan/menafsirkan Makki dan Madani. Diantara ikhtilaf tersebut antara lain :
1 ) ulama tersebut menafsirkan/mendefinisikan tentang Makki dan Madani atas dasar susunan waktu dari tahapan al – qur’an, dan hijrah sebagai pemisah antara dua tahapan yang ada. Maka ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah dinamakan Makkiyah sedangkan setiap ayat yang diturunkan setelah hijrah disebut Madaniyah.
2 ) atas dasar pembagian tempat,sebagai tolak ukur untuk membedakan antara Makkiyah dan Madaniyah. Jika suatu ayat diturunkan kepada Nabi SAW sedangkan beliau sedang berada di kota Mekkah,maka ayat itu dinamakan Makkiyah. Sedangkan jika ayat itu diturunkan dan beliau sedang berada di kota Madinah,maka ayat tersebut disebut Madaniyah.[2]
3 ) dengan melihat individu – individu yang menjadi objek diturunkannya al-qur’an. Atas dasar ini, maka sebuah ayat dikatakan ayat Makkiyah jika ayat tersebut ditujukan bagi penduduk Mekkah. Sebaliknya ayat Madaniyah adalah ayat yang ditujukan bagi para penduduk Madinah.
Dari beberapa definisi yang mereka kemukakan, definisi yang masyhur tentang makki adalah ayat maupun surat sebelum Nabi Hijrah ke Madinah. Sedangkan Madani adalah surat atau ayat yang di turunkan setelah Nabi hijrah, baik ketika itu turun di Mekkah maupun Madinah, dalam tahun pembukaan atau haji wada’, di rumah maupun di perjalanan. Definisi ini berdasarkan hadits yang diriwatkan oleh Usman bin Sa’id Ar-Razi yang disanadkan kepada Yahya ibn Salam.[3]

  1. Ciri-Ciri Makki dan Madani
Setelah para ulama meneliti surat – surat Makkiyah dan Madaniyah, mereka membuat kesimpulan analogis bagi keduanya, yang dapat menjelaskan ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakan oleh masing-masing ayat yang Makkiyah dan Madaniyah. Kemudian, lahirlah kaidah-kaidah kunci untuk mendapatkan ciri-ciri tersebut.[4]
Ciri-ciri Makki dan Madani tergolong menjadi ciri-ciri umum dan juga cirri-ciri berdasarkan tema dan gaya bahasanya.Berikut ini adalah ciri-ciri umum dari ayat/surat yang tergolong dalam kelompok Makkiyah dan Madaniyah.
  1. Ciri-ciri ayat/surat Makkiyah
a     Setiap surat di dalamnya mengandung ayat-ayat sajdah, contohnya yaitu surat Al-Insyiqaq.
b    Setiap surat di dalamnya mengandung lafaz kalla, contohnya yaitu       surat At-Takatsur.
c.   Setiap surat yang mengandung “يا ايها النا س”,  contohnya seperti yang ada di surat  kecuali surat al – hajj yang pada akhir suratnya[5] terdapat
 “ياايها الذين امنوا اركعوا واسجدوا,” namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah Makki.
d.   Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi dan ummat terdahulu kecuali surat Al – Baqarah, contohnya seperti surat Al-Qashash.
e.   Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan iblis, kecuali surat Al – Baqarah, contohnya seperti surat Al-A’raf ayat 19.
f.    Setiap surat yang dibuka dengan huruf singkatan, seperti الم, الر, حم, dan lain – lain. Dalam hal ini surat Al – Baqarah dan Ali Imran tidak termasuk karena masih diperselisihkan.[6]Contohnya seperti surat Asy-Syuara.
g.   Ayat/surahnya berisikan seruan tentang dasar-dasar keimanan kepada ALLAH SWT, masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir, serta gambaran surga dan neraka.[7] Contohnya seperti surat Al-Waqiah.
  1. Ciri-ciri Madani
a.       Setiap surat berisi kewajiban atau sanksi hukum, seperti surat Al-Baqarah ayat 286.
b.      Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik, kecuali surat Al-Ankabut. Ia adalah Makkiyah. Contohnya yaitu surat Al-Munafiqun
c.       Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab.[8] Contohnya seperti surat Al-Hasyr ayat 2.
d.      Susunan ayat dan suratnya panjang. Contohnya seperti surat Al-Maidah
e.       Bukti-bukti kebenaran dan dalil-dalil yang dipergunakan lebih mengutamakan kebenaran-kebenaran agama. Contohnya yaitu surat Ali Imran.
Ciri-ciri berikut merupakan ciri-ciri Makki dan Madani secara umum, Adapun berikut ini adalah ciri-ciri Makki dan Madani dari segi tema dan gaya bahasanya, diantaranya ;
i.        Makki
a.       Doktrin tentang tauhid dan hanya beribadah kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, hari kebangkitan, pembalasan, kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan ni’matnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan buki-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyyah.
b.      Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umatnya terdahalu sebagai pelajaran bagi mereka, sehingga mengetahui nasib seseorang yang mendustakan sebelum mereka dan sebagai hiburan buat Rasulullah, sehingga baliau tabah dalam menghadapi segala gangguan dari mereka dan yakin akan menang.[9]
c.       Kalimatnya singkat padat disertai dengan kata-kata yang mengesankan seperti yang ada dalam beberapa surat yang terletak dalam juz 30.
d.      Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak yang mulia yang dijadikan dasar terbentuknya suatu masyarakat.[10]
ii.      Madani
a.       Berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan  perincian ibadah dan muamalah
b.      Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
c.       Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan syariatnya.
d.      Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat.


  1. Manfaat/Faedah Mengetahui Makki dan Madani
Telah kita ketahui bahwa di dalam segala sesuatu pasti mengandung faedah/manfaat untuk diri kita. Begitupun dengan pembahasan tentang Makki dan Madani, pengetahuan tentang ilmu Makki dan Madani merupakan bagian dari pembahasan tentang ulumul qur’an. Dalam pembahasan tentang Makki dan Madani terdapat beberapa faedah/manfaat, diantaranya ;
a)      Dapat membedakan yang mana Nasikh dan Mansukh, apabila ada dua atau beberapa ayat mengenai obyek yang sama, yang mana salah satunya berbeda hukumnya, kemudian dapat diketahui bahwa sebagian ayat Makki dan sebagian lain Madani. Maka dapat memberikan ketentuan bahwa ayat-ayat Madani itu menasikh ayat-ayat Makki dengan alasan ayat Madani lebih akhir turunnya daripada ayat Makki.[11]
b)      Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan al-qur’an.
c)      Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
d)     Pemantapan terhadap gaya bahasa al-qur’an dalam mengajak kepada jalan Allah SWT.Pengetahuan terhadap sejarah pembentukan hukum (Tarikh tasyri’) dan fase-fase pembenahan (Tajridah).[12]
  1. Contoh – Contoh Surat Makki dan Madani
            Di dalam mushaf Al – qur’an kita ketahui di dalamnya terdapat 114 surat. Dalam surat – surat tersebut ulama membagi ke dalam golongan Makki dan Madani, pembagian tersebut sebagaimana yang telah kita ketahui yakni berdasarkan waktu turunnya surat tersebut. Jika surat atau ayat diturunkan sebelum Nabi hijrah, maka surat atau ayat tersebut tergolong ke dalam golongan Makki. Dan jika surat atau ayat tersebut diturunkan setelah Nabi hijrah, maka surat atau ayat tersebut tergolong ke dalam golongan Madani. Akan tetapi, ada beberapa surat yang masih diperselisihkan apakah surat tersebut Makki atau Madani. Hal tersebut mungkin terjadi karena belum ada riwayat yang jelas yang menggolongkan surat tersebut masuk ke dalam golongan Makki atau Madani.

         Surat – Surat yang tergolong Makki di dalam Al-Qur’an terdapat 82 (delapan puluh dua), dan Madani terdapat 20 (dua puluh) surat, sedangkan surat – surat yang masih diperselisihkan terdapat 12 (dua belas).

       Untuk lebih memudahkan dalam menggolongkannya, maka kami disini memaparkan surat – surat yang tergolong Makki dan Madani maupun yang masih diperselisihkan dalam bentuk table.

          Berikut ini adalah table surat – surat makki dan madani serta surat yang masih diperselisihkan.

  
Golongan
Makki
Madani
Masih Diperselisihkan
Al-An’am
Al-Ahqaf
Al-Alaq
Al-baqarah
Al-Fatihah
Al-A’raf
Qaf
Al-Adiyat
Ali Imran
Ar-Ra’d
Yunus
Adz-Dzariyat
Al-Qariah
An-Nisa
Ar-Rahman
Hud
Ath-Thur
At-Takasur
Al-Maidah
Ash-Shaff
Yusuf
An-Najm
Al-Ashr
Al-Anfal
At-Taghobun
Ibrahim
Al-Qamar
Al-Humazah
At-Taubah
Al-Muthaffifin
Al-hijr
Al-Waqiah
Al-Fil
An-Nur
Al-Qadr
An-Nahl
Al-Mulk
Al-Quraisy
Al-Ahzab
Al-Bayyinah
Al-Isra
Al-Qalam
Al-Maun
Muhammad
Az-Zalzalah
Al-Kahfi
Al-Haqqah
Al-Kautsar
Al-Fath
Al-Ikhlas
Maryam
Al-Maarij
Al-AKafirun
Al-Hujurat
Al-Falaq
Thaha
Nuh
Al-Lahab
Al-Hadid
An-Nas
Al-Anbiya
Al-Jin

Al-Mujadilah

Al-Hajj
Al-Muzammil

Al-Hasyr

Al-Mu’minun
Al-Mudatsir

Al-Mumtahanah

Al-Furqan
Al-Qiyamah

Al-Jumu’ah

Asy-Syuara
Al-Insan

Al-Munafiqun

An-Naml
Al-Mursalat

Ath-Thalaq

Al-Qashas
An-Naba

At-Tahrim

Al-Ankabut
An-Naziat

An-Nashr

Ar-Rum
Abasa



Luqman
At-Takwir



As-Sajdah
Al-Infithor



Saba
Al-Insyiqaq



Father
Al-Buruj



Yasiin
Ath-Thariq



Ash-Shafat
Al-a’la



Shad
Al-Ghasiyah



Az-Zumar
Al-Fajr



Ghafir
Al-Balad



Fushilat
Asy-Syams



Asy-Syura
Al-Lail



Az-Zukhruf
Adh-Dhuha



Ad-Dukhan
Al-Insyirah



Al-Jasiyah
At-Tin




  
Kesimpulan

Dilihat dari semua pembahasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa di dalam mempelajari ilmu al-qur’an seperti ilmu Makki dan Madani kita harus benar-benar mengetahui dan memahami segala aspek yang ada dalam kedua pembahasan tersebut, baik dari segi pengertian, cirri-ciri ataupun manfaat yang dapat kita ambil ketika mempelajari pembahasan tersebut.
Kami disini menyimpulkan/meringkas secara garis besar semua pembahasan tersebut melalui table berikut ini.

1. Pengertian dari berbagai segi
GOLONGAN
WAKTU DITURUNKAN
TEMPAT DITURUNKAN
SASARAN / OBYEK
Makki
Sebelum Nabi hijrah ke Madinah
Yang diturunkan ketika Nabi berada di Mekkah.
Yang diturunkan untuk penduduk Mekkah.
Madani
Setelah Nabi hijrah ke Madinah
Yang diturunkan ketika Nabi berada di Madinah.
Yang diturunkan untuk penduduk Madinah.

2. Ciri – Ciri
MAKKI
MADANI
a. mengandung ayat sajdah
b. mengandung lafaz kalla
c. mengandung kata “ya ayyuhan nasu”
d. pembahasannya lebih ke arah tentang aqidah dan iman
e. Setiap surat diawali dengan huruf singkatan
a. berisi kewajiban dan hukum
b. menyebutkan tentang orang munafik
c. ayat dan suratnya panjang
d. berisi tentang ibadah dan muamalah


IV. Penutup
      Pada bagian penutup ini, penulis/penyusun sangat berharap semoga semua yang telah kami paparkan dalam pembahasan diatas, kiranya dapat menambah pengetahuan serta. Khususnya untuk diri kami sendiri dan juga untuk pembaca pada umumnya.
      Kami yakin bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari sempurna karena kami bukanlah makhluk yang sempurna, yang tidak pernah lepas dari kesalahan dan lupa. Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa :
الاانسان محل الخطاء والنسيان                              
Artinya : “ manusia merupakan tempat salah dan lupa “
Oleh karena itu, semua kritik dan saran yang membangun dari pembaca kami siap menerima dengan tangan terbuka.


DAFTAR PUSTAKA
Al- Qaththan, Manna Pengantar studi ilmu al-qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
M. Hakim, Baqir. Ulumul Qur’an, Jakarta: AL-HUDA, 2006.
As-Suyuthi, Jalaludin. Al-Itqan fi ulumil qur’an, Mesir: Musthafa al babi al halabi
Manna Al-Qaththan, Mabahits fi ulumil qur’an (terjemahan), Bogor: Litera Antar Nusa, 2009.
Az-Zarqani, manahil al-urfan fi ulum al-qur’an (terjemahan), Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001.






[1] QS. 17:106
[2] M. Baqir Hakim, Ulumul Qur’an.
[3] Jalaludin As-Suyuthi. Al-Itqan fi ulumil qur’an.
[4] Manna Al- Qaththan, Pengantar studi ilmu al-qur’an.
[5] Sebelum ayatnya yang terakhir, yakni ayat 77
[6] Manna Al-Qaththan, Mabahits fi ulumil qur’an
[7] M. Baqir Hakim, Ulumul Qur’an
[8] Ibid,.
[9] Searching www.google.com
[10] Manna Al- Qaththan, Pengantar studi ilmu al-qur’an
[11] Az-Zarqani, Manahilul urfan fi ulumil qur’an
[12] Searching www.google.com

You Might Also Like

0 comments