Pengertian Wahyu dan Pembagiannya

November 28, 2016

Pengertian Wahyu dan Pembagiannya


Pengertian Wahyu
Secara kebahasaan, wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda. Diantaranya adalah: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.[1]
Adapun pengertian wahyu dalam arti bahasa[2] meliputi:
1.      Ilham sebagai bahan bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.(QS. Al Qasas:7)

2.      Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. An-Nahl:68)
3.      Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Qur’an:
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam:11)
4.      Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia.
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُم
Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu”. (QS. Al An’am: 121)
5.      Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan.
إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman".(QS. Al Anfal:12)

Adapun wahyu dalam pengertian syara’ adalah Allah SWT. memberitahukan kepada hamba yang dipilh-Nya segala sesuatu yang hendak diberitahukan-Nya kepadanya yaitu semua bentuk hidayah dan ilmu, akan tetapi dengan cara yang amat rahasia dan tidak biasa dialami manusia.[3]
Sedangkan wahyu menurut istilah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi dari beberapa nabi. Orang yang menerimanya adalah al muha (yang diwahyukan).
Adapun menurut ustadz Muhammad abduh, wahyu adalah pengetahuan yang didapati seseorang dalam dirinya dengan diserti keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak yang pertama melalui suara yang terjelma dengan telinganya atau tanpa suara sama sekali .[4]
Macam-macam penyampaian wahyu
Wahyu Allah kepada Nabi-Nya itu adakalanya tanpa perantaraan dan adakalanya turun melalui perantaraan malaikat wahyu. Ada dua cara penyampaian wahyu2 oleh malaikat kepada Rasul:
Cara pertama: Datang  kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul, dan suara itu mungkin sekali suara kepakan sayap-sayap para malaikat, seperti di isyaratkan di dalam hadits :
“Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-memukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai di atas batu-batu yang  licin”
Cara kedua: malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikian itu lebih ringan daripada cara yang sebelumnya.
Kemungkinan turunnya wahyu
                 Orang yang sezaman dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratannya yang menyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya.
Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya di dalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina jika mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tak dapat diragukan lagi, serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
                 Rasulullah bukanlah Rasul pertama yang diberi wahyu. Allah telah memberikan juga wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang di wahyukan kepadanya:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآَتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا (163) وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (164)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”
“Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An Nisa’: 163-164)

       Dengan demikian, maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad itu bukanlah hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran ini bagi orang-orang yang berakal.
Cara wahyu turun kepada Rasulullah
Wahyu turun kepada Rasulullah SAW melalui 3 macam[5] :
1.         Wahyu secara langsung, wahyu yang disampaikan kedalam hati Rasulullah secara langsung tanpa perantara. Berkaitan dengan ini Rasulullah bersabda. “Sesungguhnya ruhul qudus membenamkan kedalam hatiku “.
2.         Wahyu berbentuk suara . wahyu yang langsung sampai ke pendengaran Rasulullah tanpa ada seorangpun yang bisa mendengarnya. Fenomena ini sama seperti orang yang berbicara di balik tirai. Al-qur’an mengungkapkannya dengan istilah dai belakang tabir. Wahyu semcam ini disampaikan kepada nabi Musa as ketika beliau berada di gunung Thur dan kepada Rasulullah pada malam Mi’raj.
3.      Wahyu melalui perantara Jibril. Malaikat penyampai wahyu membawa pesan ilahi untuk dikabarkan kepada rasulullah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
قُلْ مَن كَانَ عَدُوّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ على قَلْبِك
Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu”. (al-baqoroh:97)    
Kalau kita teliti secara seksama, kita pasti mengetahui bahwa Rasulullah SAW merupakan satu-satunya orang yang paling sadar dan memahami benar segi kenyataan wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau. Keyakinan demikian itu dapat kita pandang sebagai dalil untuk menarik kesimpulan, bahwa urusan pribadi beliau terpisah dari wahyu.[6]
Wahyu turun ke dalam hati Rasulullah SAW kapan saja. Kadang-kadang di saat beliau sedang berada di tempat tidur. Beberapa saat seolah-olah pingsan sejenak, kemudian bangun dan mengangkat kepala seraya tersenyum. Surah Al Kautsar turun ketika beliau dalam keadaan seperti itu.[7] Atau pada saat-saat beliau di rumah sedang menunaikan shalat sunnah di larut malam (sepertiga terakhir malam hari). Sebuah ayat dalam surah At Taubah berkenaan dengan tiga orang shabat yang tidak turut berperang bersama beliau,[8]turun di saat Rasulullah SAW dalam keadaan seperti itu. Ayat tersebut ialah:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi merasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, erta mereka tidak mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (At Taubah: 118)
Adakalanya juga wahyu turun di tengah malam gelap gulita, siang bolong, pada saat udara dingin membeku, di tengah panas terik menyengat, ketika berdomisili di Madinah, di saat sedang bepergian jauh, di dalam suasana damai atau peperangan sedang berkecamuk. Bahkan di waktu Isra’ ke al Masjidil Aqsha dan Mi’raj ke tujuh petala langit.[9] 
Namun adakalanya wahyu terputus sehingga beliau merasa sangat kangen dan selalu merasa berharap. Setelah Malaikat Jibril turun menyampaikan ayat-ayat permulaan Surah Al Alaq, wahyu putus selama tiga tahun. Siti Aisyah r.a   meriwayatkan ketika itu Rasulullah Saw amat sedih. Berulang kali beliau pergi ber-khalwat di puncak bukit untuk dapat bertemu kembali dengan Malaikat Jibril, sampai akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan dan turunlah Jibril memberitahu beliau: hai Muhammad, engkau benar-benar utusan Allah. Dengan pemberitahuan itu beliau merasa tenang dan tentram.[10]
Kenyataan demikian itu meyakinkan kita bahwa wahyu turun tidak menuruti keinginan dan tidak pula tergantung pada beliau itu, dan memang benar-benar berada di luar pemikiran beliau. Dengan perasaan yang sadar beliau tetap berkeyakinan bahwa wahyu yang diterimanya itu berasal dari Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib.
Perbedaan antara wahyu, ilham dan ta’lim
            Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie, ilham ialah menuangkan suatu pengetahuan ke dalam jiwa yang menuntut penerimanya supaya mengerjakannya, tanpa didahului dengan ijtihad dan penyelidikan hujjah-hujjah agama.
            Wahyu hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul. Sedangkan ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan kepada semua manusia.
Perbedaan wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta tanpa mengetahui dari mana datangnya.
Perbedaannya ilham dan ta’lim (ilmu) terletak pada proses/cara memperolehnya. Ilham hanya diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia. Sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui usaha manusia, kecuali ilmu laduni yang dalam pandangan ahli tasawuf  proses perolehannya sama dengan ilham.
KESIMPULAN

No
Pengertian
Jenis-Jenis
Cara Turun
Perbedaan
1.
Wahyu :
Kalam Allah yang diberikan kepada nabi-Nya baik dengan perantara ataupun tidak.
1.   Wahyu secara langsung
2.   Wahyu berbentuk suara
3.   Wahyu melalui perantara Jibril.

1.    Seperti lonceng
2.    Seperti suara lebah
3.     Malaikat menjelma manusia
Di berikan kepada nabi dan rasul
2.
Ilham :
Segala yang dilimpahkan ke dalam jiwa dengan cara pemancaran, ia merupakan ilmu yang ada di dalam hati/jiwa tanpa ada pemikiran.
-
Melalui mimpi
Diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia ( hanya manusia pilihan)
3.
Ta’lim :
Ilmu yang ada di dalam hati/jiwa seseorang dengan adanya usaha atau pemikiran.
-
Melalui usaha sendiri
(ilmu) harus melalui usaha manusia, kecuali ilmu laduni
A.





Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Al Qathan, Manna’.1990. Mabahis Fi Ulumil Qur’an. Mansyurat Al ‘Ishr al Hadits
Al-Ju’fi, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al Bukhori. Tanpa tahun. Shahih Al Bukhari Juz II. Beirut: Dar Ibnu Katsir
Al-Zarqani, Muhammad Abdul Adzim. 2002. Manahil Al-‘Urfan Fi ‘Ulumu Al-Qur’an. Jakarta: Gaya Media Pratama
As Shalih, Subhi. 1990. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2004. Al Itqan Fi Ulumil Qur’an Juz I. Beirut: Dar-Al Kutub
Az-Zarkasyi, Badruddin Muhammad bin Abdullah. Tanpa tahun. Al Burhan Fi Ulumil Qur’an Juz I.
Ibnu Ali, Nabil Abdul Hamid. 2004. Al-Itqon Fi Mutaasyabihatil Qur’an. Maktabatul Awalud syeikh Lituratsi.
Ma’rifat, Muhammad Hadi. 2007. Sejarah Al Qur’an. Al Huda
Mudzakir. 2009. Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an. Pustaka Lintera Antar Nusa.
Zarqani, Muhammad Abdul Adzim.1996.Manahilul Irfan Fi Ulumil Qur’an. Maktabatul Ashriyah.




[1] Muhammad Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, hal.8
[2] Manna Al Qathan,Mabahis Fi Ulumil Qur’an, hal. 33
[3] Syeikh Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al-‘Urfan Fi ‘Ulumu Al-Qur’an, hal.64
[4]Mudzakir, Studi ilmu Al Qur’an
[5] Muhammad hadi Ma’rifat, Sejarah Al Qur’an, hal.15
[6] DR. Subhi As Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, hal.34
[7] Al Itqan I, hal. 38. Riwayat dari Annas di dalam Shahih Muslim.
[8] Tiga orang yang di maksud adalah: Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’ah. Pada mulanya mereka dikucilkan karena tidak mau turut berperang bersama-sama Rasulullah, tetapi kemudian mereka di ampuni karena mereka sungguh-sungguh menyesali sikapnya.
[9] Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasyi, Al Burhan I, hal. 198.
[10] Shahih Bukhari II, hal.30, “Kitabut-Tatrir”

You Might Also Like

0 comments