Sebagai seorang Muslim, menjaga kesucian akhlak adalah inti dari ajaran agama Islam. Akhlak bukan sekadar etika sosial, melainkan cerminan langsung dari kualitas iman yang ada di dalam dada. Namun, di era digital yang penuh tantangan moral saat ini, dorongan untuk melakukan perbuatan keji (fahsha') dan kemungkaran kian masif.
Bagaimana Islam memandang bahaya perbuatan keji dan munkar? Apa hubungan mendasar antara kualitas iman seseorang dengan dorongan maksiat yang menghampirinya?
Artikel ini akan mengupas secara mendalam dan komprehensif bahaya akhlak keji dan munkar berdasarkan tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 169 serta analisis Hadis Riwayat Al-Bukhari, lengkap dengan langkah nyata membentengi diri di era modern.
Definisi Akhlak Keji (Fahsha') dan Munkar dalam Islam
Sebelum membahas dalil-dalil utama, penting untuk memahami perbedaan makna dan cakupan dari istilah Al-Fahsha' dan Al-Munkar:
Al-Fahsha' (Perbuatan Keji): Merujuk pada semua bentuk kejahatan atau maksiat yang melampaui batas, sangat buruk menurut akal sehat maupun syariat, serta melanggar norma kesusilaan. Contoh utamanya adalah perzinahan, perbuatan tidak senonoh, penyebaran pornografi, dan kebohongan besar (behtan).
Al-Munkar (Perbuatan Munkar): Merujuk pada segala hal yang ditolak oleh syariat Islam dan dibenci oleh fitrah manusia yang lurus. Ini mencakup segala bentuk kemaksiatan, kelaziman zalim, konsumsi hal-hal haram, hingga penyalahgunaan kekuasaan.
Keduanya merupakan penyakit rohani yang tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial masyarakat.
Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 169: Strategi Setan Jerumuskan Manusia
Allah SWT berfirman mengenai taktik halus setan dalam memperdaya manusia:
إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 169)
3 Poin Penting dari Ayat Ini:
Langkah Bertahap Setan (Khutuwat): Setan tidak langsung mengajak manusia pada kekufuran besar. Ia memulainya dari kejahatan biasa (as-su'), lalu mendorong ke perbuatan keji (al-fahsha'), hingga akhirnya membuat manusia berani memutarbalikkan hukum Allah tanpa ilmu.
Tipu Daya Berkedok Kenikmatan: Perbuatan keji sering kali dikemas indah oleh setan agar terlihat sebagai "kebebasan", "kesenangan", atau "tren modern".
Bahaya Mengada-Ada Atas Nama Agama: Puncak dari jebakan setan adalah ketika manusia mulai membenarkan maksiat dan menganggap hal yang haram sebagai sesuatu yang halal atau dimaklumi.
Analisis Hadis Riwayat Al-Bukhari: Korelasi Antara Iman dan Maksiat
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai kondisi spiritual seseorang saat terjerat dalam kejahatan keji. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (No. 2475):
لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ...
Artinya: "Tidaklah seorang pezina melakukan zina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah seseorang meminum khamar ketika meminumnya dalam keadaan beriman..." (HR. Al-Bukhari)
Makna dan Penjelasan Para Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini bukan berarti memvonis pezina atau peminum khamar sebagai kafir. Namun, makna mendalam dari hadis ini adalah:
Cahaya dan Kesempurnaan Iman Terangkat: Saat seseorang melangkah melakukan maksiat keji, cahaya iman (nurul iman) dan kesempurnaannya keluar dari hatinya. Iman menyelimutinya bagaikan naungan dari luar, tidak merasuk ke dalam jiwa yang sedang berbuat dosa.
Hilangnya Hilm (Rasa Malu kepada Allah): Iman bertindak sebagai benteng pertahanan. Ketika benteng itu runtuh akibat nafsu, manusia kehilangan rasa takut (khasyyah) dan rasa malu (haya') kepada Allah SWT.
Peluang Penyesalan: Apabila pelaku maksiat bertobat secara sungguh-sungguh (taubatan nasuha), cahaya iman tersebut akan kembali merasuk ke dalam jiwanya.
Bentuk Akhlak Keji dan Munkar di Era Digital Modern
Di era peradaban serba digital, bentuk perbuatan keji dan munkar berkembang pesat melalui media sosial dan teknologi:
Maraknya Pornografi dan Perilaku Asusila Online: Kemudahan akses internet membuat dorongan perzinahan (baik zina mata, pikiran, maupun perbuatan) semakin mudah terjadi di ruang privat.
Penyebaran Fitnah, Hoaks, dan Ghibah: Menuduh tanpa bukti dan menyebarkan kebohongan di media sosial merupakan bentuk fahsha' verbal yang dapat merusak nama baik sesama.
Normalisasi Gaya Hidup Hedon dan Bebas: Kampanye kebebasan tanpa batas yang mengabaikan batasan nilai-nilai agama dan etika moral.
Panduan Praktis Membentengi Diri dari Perbuatan Keji dan Munkar
Agar terhindar dari perangkapan setan dan menjaga kualitas iman, berikut langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan sehari-hari:
1. Menjaga dan Memperbaiki Kualitas Shalat
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Shalat yang dikerjakan secara khusyuk dan dipahami maknanya akan menjadi perisai rohani yang sangat ampuh.
2. Menumbuhkan Sikap Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)
Terapkan kesadaran bahwa Allah SWT Maha Melihat dan Maha Mengetahui setiap gerak-gerik manusia, baik di tempat ramai maupun saat sendirian di balik layar gadget.
3. Menjaga Pandangan (Ghaddu al-Bashar) dan Konsumsi Informasi
Membatasi diri dari tontonan, bacaan, atau lingkungan digital yang berpotensi memancing syahwat dan memicu pikiran negatif.
4. Memilih Lingkungan dan Pertemanan yang Shalih
Lingkungan sosial memegang peranan besar. Berada di sekitar orang-orang yang mengingatkan kita pada kebaikan akan menjaga konsistensi iman.
5. Memperbanyak Zikir dan Doadalam Keseharian
Mengamalkan doa mohon perlindungan dari akhlak yang buruk, seperti:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak yang buruk, amal yang buruk, dan hawa nafsu yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Kesimpulan
Menghindari akhlak keji dan munkar adalah perjuangan seumur hidup (mujahadah) untuk mempertahankan kesucian iman. QS. Al-Baqarah ayat 169 mengingatkan kita akan kelicikan strategi setan, sementara hadis Riwayat Al-Bukhari menegaskan betapa berharganya integritas iman yang dapat terlepas saat kita menuruti nafsu.
Mari senantiasa memperkuat benteng ketakwaan, menjaga shalat, serta selektif dalam berinteraksi di dunia nyata maupun maya agar diri dan keluarga terhindar dari bahaya perbuatan keji dan munkar.

Comments
Post a Comment