Klasifikasi Hadis Berdasarkan Sifat Sanad: Muttashil, Musnad, Mu’an’an, Mu’annan, ‘Ali, dan Nazil

 

Dalam studi Ulumul Hadis, sanad (silsilah perawi) merupakan benteng utama yang menjaga keautentikan ajaran Nabi Muhammad SAW. Para ulama hadis menetapkan kriteria yang sangat mendalam untuk menilai validitas suatu periwayatan, salah satunya dengan meninjau sifat dan karakteristik sanad.

Mengetahui sifat sanad membantu kita memahami bagaimana suatu riwayat tersambung, metode penyampaian (shighat at-tahammul wa al-ada'), hingga jumlah mata rantai perawi yang ada di dalamnya. Artikel ini akan mengulas secara tuntas 6 jenis hadis berdasarkan sifat sanadnya: Muttashil, Musnad, Mu'an'an, Mu'annan, 'Ali, dan Nazil, lengkap dengan contoh dan penjelasannya.

1. Hadis Muttashil (المتصل)

Pengertian

Secara bahasa, Muttashil berarti "yang bersambung". Secara istilah, Hadis Muttashil (disebut juga Mawshul) adalah hadis yang sanadnya bersambung dari awal hingga akhir, di mana setiap perawi mendengar (sima') secara langsung dari gurunya.

Hadis ini bisa bersumber langsung dari Nabi SAW (Muttashil Marfu') maupun berhenti pada level sahabat (Muttashil Mauquf).

Contoh Hadis Muttashil

Dari Malik, dari Nafi', dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

"Pencari ilmu itu tidak akan pernah kenyang (puas) hingga puncaknya adalah surga."

Penjelasan

Rantai perawi di atas bersambung secara utuh: Imam Malik mendengar langsung dari guru beliau Nafi', Nafi' mendengar langsung dari Abdullah bin Umar (Sahabat), dan Ibnu Umar mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun perawi yang terputus atau digugurkan (munqathi').

2. Hadis Musnad (المسند)

Pengertian

Secara terminologi, Hadis Musnad adalah hadis yang sanadnya bersambung (muttashil) dari perawi awal sampai akhir dan di-marfu'-kan (dinisbatkan/disandarkan langsung) sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Artinya, hadis musnad harus memenuhi dua syarat utama:

  1. Sanadnya bersambung utuh tanpa terputus.

  2. Isinya merupakan sabda, perbuatan, atau ketetapan Nabi SAW (bukan perkataan sahabat/tabiin).

Contoh Hadis Musnad

HR. Bukhari: "Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Abu al-Zinad, dari al-A'raj, dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: 'Apabila anjing meminum di wadah salah seorang dari kalian, maka basuhlah tujuh kali.'"

Penjelasan

Hadis di atas berstatus Musnad karena jalurnya lengkap dan tidak terputus dari Imam Bukhari hingga Sahabat (Abu Hurairah), serta matan (isi)-nya disandarkan secara langsung sebagai sabda Rasulullah SAW.

3. Hadis Mu’an’an (المعنعن)

Pengertian

Hadis Mu’an’an adalah hadis yang dalam periwayatannya menggunakan lafaz redaksi "’An" (عَنْ), yang artinya "dari...", tanpa menyebutkan kata ketegasan mendengar seperti "ia menceritakan kepadaku" (haddatsani) atau "aku mendengar" (sami'tu).

  • Status Hukum: Mayoritas ulama (seperti Imam Muslim) menilai hadis Mu'an'an berstatus Muttashil (bersambung), dengan dua syarat utama:

    1. Perawi tidak tergolong mudallis (orang yang suka menyembunyikan cacat sanad).

    2. Para perawi hidup dalam satu zaman dan memungkinkan untuk saling bertemu (mu'asharah). (Imam Bukhari menambahkan syarat: harus ada bukti nyata kepastian pernah bertemu minimal satu kali).

Contoh Hadis Mu’an’an

Redaksi sanad: "Dari Sufyan, dari 'Amr, dari Thawus, dari Ibn 'Abbas, ia berkata..."

Penjelasan

Dalam rentetan sanad tersebut, perawi menyampaikan riwayat dengan menghubungkan kalimat menggunakan lafaz "’An" (dari). Selama perawi dalam rantai ini jujur, terpercaya (tsiqqah), dan hidup dalam satu masa/pernah bertemu guru-gurunya, sanadnya dihukumi bersambung.

4. Hadis Mu’annan (المؤنَّن)

Pengertian

Sering dianggap mirip dengan Mu’an’an, Hadis Mu’annan adalah hadis yang dalam sanadnya menggunakan redaksi kata "Anna" (أَنَّ), yang berarti "Bahwasanya...".

Contoh Hadis Mu’annan

"Telah menceritakan kepada kami Fulan, bahwasanya (anna) Fulan berkata..."

Contoh dalam riwayat:

"Dari Malik, dari Ibnu Shihab, bahwasanya (anna) Sa'id bin al-Musayyib berkata..."

Penjelasan

Ulama seperti Imam Malik dan mayoritas ahli hadis (jumhur) menetapkan bahwa hukum Hadis Mu’annan sama dengan Hadis Mu’an’an: dikategorikan bersambung (muttashil) jika para perawinya terbebas dari tadlis (penyamaran) dan memungkinkan interaksi/pertemuan di antara mereka.

5. Hadis ‘Ali (العالي)

Pengertian

Secara harfiah, ‘Ali berarti "tinggi". Dalam ilmu sanad, Hadis ‘Ali adalah hadis yang jumlah perawi dalam rantai sanadnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan jalur periwayatan lain untuk hadis yang sama.

Sanad yang 'Ali sangat dicari oleh para ulama hadis karena semakin pendek jarak antara perawi dan Rasulullah SAW, maka semakin kecil pula kemungkinan terjadinya kesalahan (khatha') atau kekeliruan pencatatan.

Contoh Hadis ‘Ali

Imam Bukhari memiliki beberapa hadis terkenal yang dinamakan Tsulatsiyyat (hadis dengan sanad 3 perawi saja antara Imam Bukhari dan Nabi SAW):

Imam Bukhari -> Makki bin Ibrahim -> Yazid bin Abi 'Ubaid -> Salamah bin al-Akwa' -> Rasulullah SAW.

Penjelasan

Jalur sanad di atas tergolong amat 'Ali (tinggi) karena hanya membutuhkan 3 perawi perantara dari tingkat pengumpul kitab (Imam Bukhari) sampai kepada Rasulullah SAW.

6. Hadis Nazil (النازل)

Pengertian

Nazil secara bahasa berarti "turun" atau "rendah". Hadis Nazil adalah kebalikan langsung dari Hadis ‘Ali, yaitu hadis yang jalur sanadnya memiliki jumlah perawi lebih banyak dibandingkan jalur lain untuk hadis yang sama.

Contoh Perbandingan (Ali vs Nazil)

Untuk satu matan hadis yang sama mengenai keutamaan niat/perbuatan:

  • Jalur A (Sanad 'Ali): Terdiri dari 4 perawi antara mukharrij (penyusun kitab) hingga Nabi SAW.

  • Jalur B (Sanad Nazil): Terdiri dari 6 perawi antara mukharrij hingga Nabi SAW.

Penjelasan

Jalur B dinamakan Nazil karena memiliki interval mata rantai perawi yang lebih panjang. Meskipun sanadnya Nazil (banyak perawi), hadis tersebut tetap bisa berstatus Shahih selama seluruh perawi di dalam jalur tersebut memenuhi syarat keadilan dan kedhabitan (keakuratan hafalan).

Tabel Rangkuman Sifat Sanad Hadis

Jenis HadisCiri Utama SanadTingkat Ketersambungan
MuttashilSanad terhubung utuh dari awal sampai akhirBersambung (Muttashil)
MusnadSanad bersambung + bersumber dari Nabi SAWBersambung (Muttashil Marfu')
Mu’an’anMenggunakan redaksi "’An" (dari)Bersambung (dengan syarat)
Mu’annanMenggunakan redaksi "Anna" (bahwasanya)Bersambung (dengan syarat)
‘AliJumlah perawi dalam sanad sedikit/pendekTergantung kevalidan perawi
NazilJumlah perawi dalam sanad banyak/panjangTergantung kevalidan perawi

Kesimpulan

Memahami pembagian sifat sanad hadis sangat penting bagi penuntut ilmu syariat untuk membedakan struktur periwayatan. Hadis seperti Muttashil dan Musnad berfokus pada keutuhan rantai dan sumber matan, Mu'an'an dan Mu'annan menitikberatkan pada lafaz penyampaian perawi, sedangkan 'Ali dan Nazil mengukur kuantitas jarak/jumlah perawi hingga ke titik sumber.